Bandar Q
Bandar Poker Dan Bandar Q Terpercaya Di Asia Dan Indonesia,Agen DominoQQ Dan Adu Q Terbaik Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online

Cerita sex Santi dan mimi Temani malam Suramku

Cerita sex Santi dan mimi Temani malam Suramku – Perkenalkan pembaca nama saya Doni. Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.

Cerita sex Santi dan mimi Temani malam Suramku

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Retno. Tapi dalam kisah ini bukan Retno tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Retno. Malah waktu itu aku aku lagi marahan sama doski.

Waktu itu aku nganggap Retno nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Retno hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee…). Tapi si Retno menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil sintaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi. Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu.

Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana. Yang ada tinggal sinta, si bungsu dan Linda, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, sinta datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Doni?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau sinta memang orangnya ramah banget)

“Ngapel sama siapa, Ta?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.
“Ah… Mas Doni ini pura-pura lupa sama pacarnya.”
Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab sinta cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.
“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat sinta. Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.
“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”
Aku menghentikan petikan sintarku.

LIHAT JUGA :  Cerita Dewasa : Kepergian Kekasihku

“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama sinta deh ketimbang sama dia.”
Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si sinta ada mau sama aku.

“Ta, kok diam aja? Malu yah…”
sinta melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh sinta yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Doni bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”
“Yah sinta, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Doni, iya nggak?” pancingku.
“Ah, Mas Doni ini bisa aja godain sinta..”
sinta mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?
“Mau nggak Mas, tolongin sinta?”
“Ada upahnya nggak?”
“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”
Cubitan kecil sinta kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?
“Kalau diupah sun sih Mas Doni mau loh.” pancingku sekali lagi.
“Aah… Mas Doni nakal deh…”

Sekali lagi sinta mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan sinta biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, sinta ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Doni aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Cerita Panas – Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.
Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Linda kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Doni.”
“Trus si Linda gimana? Nggak marah?”
“Ya enggak, ngapain marah.”
“Sendirian dong dia?”
“Mas Doni kok nanyain Linda mulu sih? Sukanya sama Linda ya?” ujar sinta merajuk.
“Yee… sinta marah. Cemburu ya?”
sinta merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.
“sinta udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.
“Belum tuh.”
“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Doni mau ngajarin sinta pacaran.” balas sinta.
“sinta bener mau?” Gayung bLindambut nih, pikirku.
“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar sinta tertunduk malu. “sinta suka sama mas Doni?”

sinta memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada sinta.

“sinta suka sama Mas Doni?” ulangku.
“Iya.” gumamnya lirih.
Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…
“Mas Doni mau ngesun sinta, sinta nurut aja yah…” bisikku ke telinga sinta

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. sinta menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.
“Engh.. emmh..” sinta mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara sinta penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang sinta. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gisintan kecilku merajang-rajang birahi sinta.

“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”
Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher sinta.
“Ta… kaosnya dilepas ya sayang…”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos sinta satu pLindatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara sinta bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan sinta kehilangan kenikmatannya. Jemari sinta menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang sinta ciptakan.

Kaos pink sinta terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh sinta dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara sinta (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara sinta. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, sinta memicingkan mata.

“Ta… adekmu udah gede banget Ta…”
“Udah waktunya dipetik ya mass…”
“Ehem, biar aku yang metik ya Ta…”
Aku berada di atas sinta. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada sinta.

Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.
“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih sinta.
Cerita Sex – Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara sinta dengan mulutku.
“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.
“Mass… sakiit…” rintih sinta sambil memegangi vaginanya.
Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara sinta sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.
Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat sinta menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan sinta telah basah.
“sinta kencing di celana ya Mass?”
“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”
sinta tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan sinta. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.
“Tahan ya sayang…engh..”
“Aduh… sakiiit mass…”
“Egh… rileks aja….”
“Mas… aah!!!” sinta menjambak rambutku dengan liar.
Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan sinta yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.
“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih sinta.
Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.
“Jruub…”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim sinta. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.
Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.
“Sakit sayang…” kataku.
“Enakkk…eungh…” sinta menyukainya.

Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh sinta berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar sinta melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.
“Enggh.. ahhh..” desis sinta ketika tanganku mulai meremas-remasnya.
“Mass aku mau pipis…”
“Pipis aja Ta… nggak papa kok.”
“Aaach…!!!”
“Hegh…engh…”
“Suuur… crot.. crot.. ”
Lendir kawin sinta keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.
“Ah…” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan sinta menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. sintapun terlelap kecapaian.

Kreek… Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Linda terpaku di depan pintu memandangi tubuh sinta yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Linda yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak sinta masuk tadi Linda mengintip di depan kamar.
“Linda? Ng… anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Linda.

Gadis ini lebih tua dua tahun diatas sinta. Pantas saja kalau dia lebih matang dari sinta. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan sinta, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding sinta, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal…”
“Asal apaan?”

Mata Linda sayu memandang ke arah sinta dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Linda sengaja memancing birahiku. Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Linda membarakan gairahku lebih jauh.

Linda duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.
“Mas Doni.. sini.. ay…”

Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.
“Ayo.. mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.
Aku gantiin Linda meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Linda sudah nafsu banget.
“Eahh.. mmhh…” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.
“Eahhh.. mas.. sakit.. enak….”

Linda memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers… tanganmu nakal banget…”
Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Linda bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.

“Auh…”
Linda menekan batang penisku.
“Ers… sakit sayang” keluhku diantara payudara Linda.
“Habis dingin kan mas…” balasnya.
Setelah puas aku pandangi wajah Linda.
“Linda, mau jurus baru Mas Doni?”
Gadis itu mengangguk penuh semangat.
“Kalau gitu Linda tiduran di lantai gih!”

Linda menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Linda mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya. Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmmm… enghh…”

LIHAT JUGA :  Cewek indo Masa Sma sudah menjanda

Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.
Cerita Dewasa – Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Linda untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Linda segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).

Linda bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Linda, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya. Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Linda. Ukuran vagina Linda sedikit lebih besar dibanding milik sinta, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Linda. Dan klitorisnya… mmm… mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.
“Ngngehhh…uuuhh..” lenguh Linda sambil terus melumat senjataku.
Sedang lendir kawinnya keluar terus.

“Ouwgh… isep sayang, iseppp…” kataku ketika aku merasa mau keluar.
Linda menghisap kuat-kuat penisku dan crooott… cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Linda. Linda berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.

“Aha…” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Linda berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan…”

Sambil berbisik Linda memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.
Aku minta Linda menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.

“Sakit Mas…”
Sulitnya masuk liang kawin Linda, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.
“Nggeh… dikit lagi Ers…”
“Eeehhh… waaa!!”
“Jlub…” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Linda. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.
“Eeehh… terus mass… uhh…”

Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Linda meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Linda. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Linda menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Linda kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping sinta.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Retno.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh sinta ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Linda. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher sinta sudah memudar.